Dari lahir sampai memberi nama


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:21.0cm 842.0pt; margin:1.0cm 1.0cm 1.0cm 2.0cm; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:377053959; mso-list-template-ids:-2103158700;} @list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l1 {mso-list-id:589969281; mso-list-template-ids:728898898;} @list l1:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l2 {mso-list-id:1084179745; mso-list-template-ids:-1307298936;} @list l2:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l3 {mso-list-id:1528788672; mso-list-template-ids:41481056;} @list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l4 {mso-list-id:2018076709; mso-list-template-ids:607406932;} @list l4:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} @list l5 {mso-list-id:2042045406; mso-list-template-ids:1314060870;} @list l5:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

Apa yang Diucapkan Ketika Menyembelih Aqikah?

Ibnul Mundzir menuliskan, ?Bab Tentang Penyebutan Nama Anak yang Diaqikahkan untuknya?. Lalu dia berkata, ?Abdullah bin Ahmad memberitahu kami, dari Hisyam, dari Ibnu Juraij, dari Yahya bin Sa?id, dari Umrah, dari Aisyah, dia berkata, ?Nabi Muhammad saw. bersabda,

?Sembelihlah dengan nama sang bayi. Maka katakanlah, ?Bismillah, ya Allah untuk-Mu dan kepada-Mu. Ini adalah aqikah si Fulan?.

Ibnul Mundzir berkata, ?Ini adalah hal yang baik. Jika dia meniatkan aqikah dan tidak menyebutkan namanya, itupun insya Allah sudah cukup?.

Al-Khallal menuliskan, ?Bab Tentang Apa yang Diucapkan Ketika Menyembelih Aqikah?. Lalu dia berkata, ?Ahmad bin Muhammad bin Mathar dan Zakariya bin Yahya, dari Abu Thalib, bahwa dia bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hambal, ?Jika seseorang ingin menyembelih aqikah, maka apa yang dia ucapkan?? Dia menjawab, ?Katakan, ?Ini adalah aqikah si fulan bin fulan?. Hal ini mengisyaratkan bahwa Imam Ahmad menggabungkan niat dengan pelafalan secara bersamaan. Hal ini seperti seseorang yang melakukan haji untuk orang lain, maka dia mengucapkan talbiyah dan ihram dengan niat dan mengucapkan: ?Labbaikallaahumma ?an Fulaan, atau Ihraamii ?an Fulaan?, ?Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, atas nama si fulan?, atau, ?Ihram saya adalah untuk si fulan?. Dari hal ini dapat disimpulkan juga, bahwa jika seseorang menghadiahakan pahala suatu amal untuk orang lain, hendaknya dia meniatkannya untuk orang tersebut, yaitu dengan berkata, ?Ya Allah, ini adalah untuk si Fulan?, atau ?Ya Allah, jadikanlah pahala amal ini untuk si Fulan?.

Sebagian orang mengatakan, ?Hendaknya dia mengaitkannya dengan syarat, yaitu dengan berkata, ?Ya Allah, jika Engkau menerima amal ini dari saya, maka jadikanlah pahalanya untuk si Fulan?. Menurut mereka, hal ini perlu karena dia tidak tahu apakah amalnya tersebut diterima atau tidak. Akan tetapi hal ini tidaklah perlu dan hadits yang ada pun telah menolaknya. Yaitu bahwa Nabi saw. tidak mengatakan kepada seseorang yang melakukan talbiyah untuk Syabramah agar mengatakan, ?Ya Allah jika Engkau menerima ihram saya, maka jadikanlah untuk Syabramah?. Beliau juga tidak mengatakan hal itu kepada seorang pun yang bertanya bahwa dia akan melakukan haji untuk seorang kerabatanya. Di samping itu, tidak ada satu hadits pun yang menganjurkan agar melakukannya. Maka petunjuk Rasulullah saw. lebih utama untuk diikuti.

Dan tidak ada seorang pun dari kalangan salaf yang menggantungkan pemberian pahala, kurban dan aqikah kepada orang lain dengan syarat jika amal tersebut diterima. Adapun yang diriwayatkan dari mereka adalah kata-kata, ?Ya Allah, ini adalah untuk si fulan bin Fulan?. Dan ini sudah cukup, karena Allah swt. akan memberikan pahala amal yang Dia terima, baik disyaratkan oleh si pemberi ataupun tidak. Wallahu a?lam

Bayi Perempuan, Why not?

Berdasar logika, realita sejalan, dan pengalaman hidup kita telah ketahui bahwa baik laki-laki maupun perempuan adalah sama, anugerah Allah swt. Dia telah mentaufikkan takdir dan kehendak-Nya, dan keduanya (anak laki-laki maupun perempuan) adalah merupakan suatu karunia yang wajib disyukuri dan dihormati.

Akhirnya mereka akan dewasa dalam kehampaan, tidak berkepribadian, dan tidak memiliki rasa percaya diri. Mereka tidak dapat memberikan apa-apa kepada keluarganya apalagi bagi masyarakat sekelilingnya. Sudah barang tentu orang yang hampa seperti itu tidak akan mampu memberi manfaat kepada siapa pun, juga kepada dirinya.

Kedatangan keduanya seharusnya merupakan peristiwa yang mengundang kegembiraan, harapan, dan rasa optimis. Kedatangan keduanya adalah dengan tujuan Allah swt (hamba) dan memakmurkan bumi ini (khalifah). Keduanya merupakan makhluk mulia yang menuntut perlunya pendidikan yang baik agar mereka mampu mengabdikan diri dalam kehidupan kelak dengan maksimal dengan arahan yang tepat demi tercapainya ridha Allah swt.

Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mempunyai peluang dan kemampuan mendarmabaktikan dirinya dalam kehidupan. Mereka memiliki peluang untuk maju da untuk mengajak kehidupan itu sendiri ke jalan Illahi yang suci bila kedua orang tuanya pandai mendidik dan membinanya dengan baik.

Kalau begitu, kenapa kita harus berkecil hati? Atau kenapa banyak di antara kita menjadi sempit dada dan sesak napasnya ketika isterinya melahirkan bayi perempuan? Terutama bila kita selalu mendapat anak perempuan berkali-kali. Bahkan bila segera setelah itu berdatangan para pemberi ucapan bernada menghibur dengan dibungkus ucapan selamt sehingga seolah-olah telah terjadi suatu tragedi dengan kedatangan bayi perempuan tersebut.

Dan fenomena serupa itu tidak hanya terlihat dalam masyarakat terbelakang saja tetapi juga sudah menyebar di kalangan masyarakat berpendidikan. Bahkan kami temui sebagian pendukung sikap demikian adalah justru kaum wanita. Sebagai bahan renungan maka ingatlah berapa banyak wanita yang sukses yang telah mendatangkan kebaikan, kepuasan, dan kebahagiaan bagi keluarganya dan negerinya.

Berapa banyak pria yang telah membuat susah dan resah keluarganya dan merugikan negerinya. Berapa banyak wanita taqwa yang tercatat namanya dengan tinta emas sejah, dan berapa banyak pria menjadi celaka dan menyimpang dari jalan hidayah???

Sekali lagi, baik laki-laki maupun wanita sama-sama mempunyai peluang yang besar dalam kehidupan ini. Masing-masing mempunyai medan dan perannya sendiri-sendiri yang tidak lebih utama di antara satu dengan lainnya. Semuanya dalam rangka pembagian fungsi dan tugas agar roda kehidupan berjalan lancar di bawah naungan rahmat Allah swt dan sesuai dengan kehendak-Nya.

Ketika kita menyambut bayi perempuan sebagai tamu yang tidak kita sukai maka pada saat itu juga kita telah meninggalkan petunjuk Islam dalam bentuk sikap yang menyimpang. Secara tidak sadar, dari sisi lain kita telah menaburkan benih-benih kegagalan tanpa suatu alternatif penyelesaian.

Perasaan sempit dada dan sesak napas dalam menyambut kedatangan bayi perempuan adalah manifestasi sikap negatif terhadap Allah swt dan sekaligus merupakan penentangan terhadap pilihan-Nya dan pengabaian terhadap ayat-ayat-Nya:

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang dia kehendaki dan memberikan anak-anak laki-laki kepada siapa yang dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki an perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Asy-Syuraa: 49-50).

Secara alamiah manusia adalah terbatas, tidak mempunyai kemampuan dan mengetahui apa yang tersembunyi di balik hari esok. Apakah dia sudah tahu apa yang tersembunyi di balik hari depan anak perempuannya yang baru lahir, sehingga sampai-sampai ia harus memenuhi relung hatinya dengan keresahan dan kegelisahan? Apakah dia tidak pernah membaca Firman Allah swt tentang hak-hak wanita yang berbunyi:“Maka apabila kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (An-Nisaa: 19)

Demikianlah permasalahan kaum wanita bagi sanak keluarganya. Saleh bin Ahmad berkata: “Kebiasaan Ahmad bin Hambal apabila diberi anak perempuan selalu berkata: ‘Para nabi pada umumnya adalah ayah dari anak permpuan’.”Dengan pemikiran akal dan logika sehat yang melepaskan diri dari prasangka-prasangka generasi demi generasi. Mereka telah menghantarkan kita kepada suatu pemikiran bahwa mendapatkan anak-anak perempuan adalah suatu transaksi yang menguntungkan yang telah dihadiahkan “langit” kepada kita.

Seorang anak permpuan adalah cerminan suatu kalbu yang pengasih, yang senantiasa memancarkan kerinduan dan kehangatan kepada kedua orang tuanya dan merupakan uluran tangan rahim pada hari-hari tua keduanya. Semua kesempatan untuk meraih sukses besar terbentang lebar bagi anak-anak perempuan terutama pada bidang-bidang pengajaran dan pendidikan.

Dalam bidang ini anak wanita berpeluang sama dengan rekannya yang laki-laki. Dan kuncinya hanya terletak pada bagimana cara pendidikan dan pembinaan yang diberlakukan para orang tua, bagaimana cara menanamkan kepercayaan, kasih sayang, dan harga diri dalam jiwa si anak sejak dini, baik itu bayi laki-laki maupun perempuan yaitu yang ditentukan oleh cara penyambutan kita akan kehadirannya, dan ini merupakan refleksi dari kasih sayang kita kepada mereka. Hal lain yang turut menentukan adalah komentar-komentar kita tentang dirinya baik kepada teman-teman atau para tetangga.

Allah swt telah memberi kesempatan istimewa kepada ayah ibu dari anak-anak perempuan untuk memasuki sorga melalui jalan pintas. Sabda Rasulullah saw.: “Barang siapa yang mempunyai tiga orang anak wanita atai tiga orang saudara perempuan, atau tiga orang anak perampuan atau dua orang saudara perempuan kemudian dia rawat dengan baik dan sabar dan dia senantiasa bertqwa kepada Allah swt dalam pemeliharaannya itu maka dia akan dimasukkan ke dalam sorga” Islam tidak memperkenankan seseorang—baik ia seorang ayah suami – berlaku curang, beraat swbwlah, dan tidak adil terhadap anak-anak perempuan atau isteri-isterinya.

Firman Allah Swt : “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada ketaqwaan”. (Al-Maidah 8)Dalam salah satu haditsnya Rasulullah Saw sampai mengulang-ulang masalah tersebut agar lebih diperhatikan lagi.

Sabda Rasul : “Berlaku adillah diantara anak-anakmu, berlaku adillah diantara anak-anakmu, berlaku adillah diantara anak-anakmu”.

Berdasarkan penghargaan akan kehalusan perasaannya, akal pikiran, dan misinya maka Islam telah membuka lebar-lebar kesempatan kepada kaum wanita agar mereka berhasil merealisasikan kedudukan dan aspirasinya dalam berbagai lapangan kehidupan.

Sehingga tidaklah mengherankan jika banyak bermunculan perawi hadits wanita dikalangan kaum muslimin, seperti Karimah Al-Marwaziah dan Sayidah Mafisah binti Muhammad. Perlu juga dicatat bahwa diantara guru-guru Al-Hafidz bin Asakir yang delapan orang itu diantaranya terdapat guru wanita.

Banyak bermunculan dokter ahlui dari kalangan kaum muslimah, diantaranya Zainab. Ia seorang dokter mata dari Kabilah Bani Aud dan Ummu Hasan binti Al-Qadhi Abi Ja`far Ath-Thaljali. Kita juga mencatat nama-nama mujahidah yang turut serta berperang di medan laga dan  di perang kemerdekaan tanah airnya di berbagai negara Islam. Alangkah pentingnya jika seseorang ini kita programkan misi kaum wanita yang revolusioner yang akan menyandang panji-panji Islam dan mendidik uamt sehingga terbentuk kelompok kaum muslimin yang mampu mengemban misi dakwah ke seluruh persada dunia ini.

Kelompok yang tidak segan dan ragu berkorban pada jalan Allah Swt, kapanpun dan dimanapun mereka diperlukan. Kaum wanita adalah sosok yang mampu membina akhlaq putera-puterinya sejak dini. Oleh karena itu tanggung ajwab besar terletak di pundak kita untuk meraih hari depan yang lebih Islami dengan menyambut kedatangan bayi perempuan kita sebagaimana mestinya.

Apakah manusia pada penghubung abad XXI ini, yang dididik dengan semangat keislaman, yang sudah berjarak lima belas abad dari zaman jahiliyah, mampu membuktikan diri bahwa dirinya sudah benar-benar terbebas dari sifat dan watak jahiliyah, terbebas dsri tudingan firman Allah yang berbunyi :  “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakaih dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapka itu”. (An-Nahl 58-59)

AQIQAH

Secara bahasa aqiqah berarti rambut yang berada dikepala bayi yang baru yang baru dilahirkan dan aqiqah juga berarti pemotongan. Dari asal kata itu juga jika seseorang disebut aqqawalidaihi berarti seseorang yang mendurhakai ibu bapaknya karena memutuskan hubungan baik dengan keduanya.

Arti aqiqah dalam syariat adalah memotong domba untuk bayi yang baru dilahirkan. Malah ada kalanya domba yang dipotong disebut aqiqah. Ada lagi orang yang lebih senang mengucapkan nasikah sebagai pengganti aqiqah. Dan kata nasikah ini banyak juga disebutkan dalam hadits Nabi Saw.

Hukum Aqiqah

Kata Malik : “Ini adalah perintah yang tidak dapat diperselisihkan lagi”.  Ibnu Mundzir berkata : “Aqiqah itu biasa dilakukan oleh penduduk Hijaz baik dahulu maupun sekarang dengan bimbingan para ulama”.

Ada sementara orang mangatakan bahwa tindakan tersebut sebagai sunah dan tidak merugikan bagi orang yang tidak dapat melakukannya. Tidak sesuai dengan ijma ulama yang lain, mahdzab Hanafi tidak bisa menerima hukum aqiqah.

Bukti Keutamaan Aqiqah

Sabda Rasulullah Saw :

“Semua anak tergantung (tergadai) dengan aqiqah, disembelih pada hari ketujuhnya, Diberi nama, dan dicukur rambutnya”. Hadits ini diriwayatkan oleh ahli sunah semuanya. Kata At-Tirmidzi merupakan hadits hasan dan shahih.

Dikatakan oleh Buraidah Al-Islami: “Di zaman jahiliyah, apbila salah seorang dilahitrkan maka kami sembelihkan seekor domba dan darahnya dioleskan pada kepala anak. Setelah Islam datang maka kami menyembelih domba, mencukur rambut, dan mengoleskan pada kepalanya Za`rafan (kunyit)”. Diriwayatkan oleh Ummu Karaz Al-Ka`biyah bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang aqiqah, maka sabda beliau :

“Untuk seorang putera dua ekor dan untuk seorang puteri seekor dan tidak ada salahnya domba itu jantan atau betina”.

Sebagai realisasi dari pandangan Islam baik ia seorang putera maupun puteri maka kelahirannya haruslah disambut dengan meriah dan suka cita.

Mungkin perintah menyembelih aqiqah bagi anak wanita dengan seekor domba tersebut untuk menyesuaikan antara dua hal, yakni :

  • Menetapkan persamaan antara laki-laki dan wanita dan penyambutan kedatangan keduanya haruslah dikaitkandengan upacara yang meriah dan gembira; dan
  • Memelihara watak yang telah menguasai jiwa bangsa Arab yang pada zaman jahiliyah tidak senang dengan datangnya seorang bayi perempuan sehingga aqiqahnya setengah bayi laki-laki.  Atau untuk menyesuaikan dengan kaidah syariah yang menetapkan bagian kaum wanita adalah satu dan bagian kaum laki-laki adalah dua kalinya dalam hal waris, membayar diyat, dan memerdekakan budak

Dapat saja untuk bayi laki-laki hanya dipotongkan seekor domba saja. Hal ini berkenaan dengan sunah Rasulullah Saw atas kelahiran Hasan dan Husein Ra. Dengan dalil tersebut maka Malik memutuskan bahwa aqiqah bagi seorang bayi baik laki-laki maupun perempuan adalah sama, seekor domba. Perlu diketahui bahwa kebiasaan memotong aqiqah pada ahli kitab hanya berlaku khusus bagi bayi laki-laki saja, tidak berlaku bagi bayi perempuan. Menyedekahkan anak dengan Harga Aqiqah

Ibnul Qayyim mengkaitkan aqiqah dengan nilai kurban yang diberikan Allh Swt atas diri Ismail As dengan seekor domba yang dipotong. Berkenaan dengan hal itu maka tidak dapat disangkal lagi bahwa pemotongan aqiqah pada waktu anak dilahirkan berguna untuk menangkal si bayi dari gangguan setan.

Persis seperti kegunaan membaca doa dan menyebutkan asma Allah Swt pada waktu benih bayi disemai ke dalam rahim ibunya yakni untuk menjauhkan dari gangguan setan dan agar didekatkan denagn keridhaan Allah Swt. Dan alangkah banyaknya rahasia syariah yang belum dapat kami ungkapkan.

Oleh karena itu menurut hemat kami tetaplah kami berpendapat bahwa kedudukan memotong aqiqah itu lebih utama dari pemberian sedekah seharga aqiqah tersebut. Sungguh pemotongan kurban dan penumpahan darah itu sesuatu yang telah ditetapkan syariah. Lihat ayat yang berbunyi :

“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar 2)

Pemotongan Aqiqah

Ahmad bin Hambal berbicara tentang aqiqah, ia berkata : “Penyembelihan dilakukan pada hari ketujuh, jika tidak maka pada hari keempat belas, dan jika tidak maka pada hari kedua puluh satu”.

Dalam hadits yang dibawakan oleh Al-Baihaqi juga terdapat keterangan yang serupa dengan hal tersebut. Ada beberapa ulama berpendapat bahwa jika pada hari-hari tersebut belum juga dapat dilakukan penyembelihan maka penyembelihan dapat dilakukan pada hari-hari lainnya yang memungkinkan.

Apabila hari Iedul Adha (Iedul Kurban) bertepatan waktunya dengan hari aqiqah maka cukuplah dilakukan pemotongan seekor domba untuk keduanya sekaligus.

Hukum Pemotongan Aqiqah

Telah dikatakan bahwa bila seeorang tidak mampu melaksanakan aqiqah maka tidak ada keharusan baginya memaksakan diri untuk melakukannya. Ada pula yang membenarkan melaksanakan aqiqah dengan modal pinjaman demi untuk menghidupkan sunah Rasul dan dengan harapan insya Allah Dia akan menggantinya dengan rizki yang lebih besar.

Muhammad bin Ibrahim berkata : “Aqiqah itu diperintahkan meskipun berupa seekor burung”. Sedangkan para ulama masih berselisih pendapat dalam menilai hukum aqiqah itu, apakah wajib hukumnya atau terpuji hukumnya. Pelaksanaan aqiqah tidak dibenarkan dilakukan secara kolektif seperti halnya dengan pelaksanaan kurban.

Makruh Memecahkan Tulang Aqiqah

Perlu diperhatikan kepada yang bersangkutan untuk tidak memecahkan tulang-tulang hewan aqiqah baik pada waktu disembelih maupun waktu dimakan. Tulang-tulangnya dipisahkan dipersendiannya dengan maksud antara lain untuk:

  • Anjuran agar pada waktu diberikan mentah atau setelah dimasak terlihat menyenangkan bagi para fakir yang menerimanya, para tetangga yang melihatnya, dan bagi para pengantarnya.
  • Menaruh rasa optimis terhadap kesehatan dan keselamatan anggota badan yang dilahirkan berhubung aqiqah itu dianggap sebagai penebus untuk bayi.

Hikmah dan Syarat-syarat Aqiqah

  • Sebagai pernyataan gembira atas diberinya kekuatan untuk melaksanakan syariat Islam dan dianugerahinya seorang anak yang muslim yang diharapkan kelak akan mengabdikan dirinya hanya kepada Allah Swt semata.
  • Membiasakan berkurban bagi orang tua/wali untuk si bayi sejak pertama kali kelahirannya di dunia.
  • Melepaskan penghalang-penghalang pada si bayi dalam memberikan syafaat kepada orang tua mereka kelak.
  • Melindungi dari gangguan setan sehingga setiap anggota tubuh aqiqah berguna untuk menebus seluruh anggota tubuh si bayi.
  • Pada waktu memotong aqiqah juga diucapkan apa yang diucapkan pada waktu memotong kurban yaitu Bismillah.
  • Lebih diutamakan memasak aqiqah dan tidak diberikan dalam keadaan mentah untuk mempermudah para fakir miskin dalam menikmatinya, dan ini lebih terpuji.
  • Umur aqiqah yang disembelih adalah sesuai dengan yang diperintahkan, sehat, dan tidak cacat.
  • Tidak sah bila dilaksanakan secara bersama-sama oleh beberapa orang dengan memotong seekor domba untuk beberapa anak dari mereka.
  • Sebaiknya aqiqah itu berupa domba, walau ada juga yang menyembelih seekor unta, sapi, atau kerbau.
  • Diutamakan memotong aqiqah itu atas nama si bayi. Sabda Rasul Saw :
  • “Sembelihlah atas namanya”, artinya diniatkan atas nama si bayi dengan mengucapkan :
  • Dengan asma Allah, ya Allah untuk-Mu dan kepada-Mu, ini adalah aqiqah si fulan.”  Penyembelihannya yang baik dilakukan sesudah matahari terbit.
  • Apa yang terpuji pada pemotongan aqiqah adalah sama seperti yang terpuji pada pemotongan kurban., yakni dagingnya disedekahkan. Ynang baik adalah sepertiga dikonsumsi sendiri, sepertiga dihadiahkan, dan sepertiga disedekahkan.
  • Tidak diperkenankan menjual kulit aqiqah atau dijadikan bayaran penyembelihan. Harus disedekahkan atau diambil untuk kepentingan orang yang mengadakan aqiqah.
  • Bagi orang yang mengetahui bahwa oleh orang tuanya belum disembelihkan aqiqah maka dianjurkan untuk mengadakan. Seperti Nabi telah mengadakan aqiqah untuk dirinya setelah diangkat sebagai Rasul.
  • Sebelum dilakukan penyembelihan aqiqah terlebih dahulu dilakukan pencukuran rambut bayi. Kemudian rambutnya ditimbang dengan perak dan nilainya disedekahkan kepada fakir miskin.

Memberi bayi

Memberi nama apalagi bila menghendaki nama yang paling tepat adalah tidak mudah dan kadang-kadang memakan waktu yang lama.

Pemberian nama merupakan cermin kepribadian dan kedalaman pendidikan pemberinya dan sekaligus nama adalah penjelasan singkat bagi yang dinamainya. Oleh karena itu pemberian nama bagi seorang anak sebagai insan rabbani adalah sesuatu yang penting. Syukurlah, dalam masalah ini Islam tidak membiarkan kita meraba-raba dalam memecahkan masalah ini.

Waktu Pemberian Nama dan Siapa Yang Memberikan

Berdasarkan berbagai hadits Rasulullah Saw maka pemberian nama bagi si bayi dapat dilakukan pada hari kelahirannya atau tiga hari sesudah kelahirannya atau ditunda sampai pada pelaksanaan aqiqah. Akan tetapi hal ini dapat dilakukan sebelum dan sesudahnya. Waktunya cukup panjang.

Dan tentang siapa yang lebih berhak membri nama jika antara ayah dan ibunya terjadi perselisihan? Hak memberi nama dilimpahkan kepada sang ayah.  Al Qur`an yang mulia sudah menyatakan supaya anak dinasabkan kepada ayahnya, bukan kepada ibunya.

khitan

Menurut bahasa khitan berarti memotong kulit kepala dari dzakar atau penis pada laki-laki. Khitan adalah salah satu keutamaan dien yang disyariatkan Allah Swt untuk hamba-Nya sebagai pelengkap fitrah yang diberikan kepada mereka.

Pengkhianatan bagi para pengikut Millah Nabi Ibrahim As setingkat dengan salah satu hukum seperti pembabtisan bagi para penyembah salib (kaum Krieten).

Barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak melakukan khitan sebelum aqil baligh (dewasa) maka oleh sementara dia dinyatakan sebagai kafir.

Khitannya Al-Khalil (Nabi Ibrahim As)

Nabi Ibrahim As berkhitan pada usia 80 tahun. Beliau mengkhitan Nabi Ismail As pada usia 13 tahun, dan mengkhitan Nabi Ishaq As pada usia 7 tahun. Khitan merupakan salah satu keutamaan yang diujikan Allah Swt kepada khalilnya – Nabi Ibrahim As – yang kemudian dilaksanakan dengan baik oleh beliau, oleh karena itu layaklah bila beliau mendapat julukan Imam Umat Manusia. Konon, beliau adalah manusia pertama yang melakukan khitan.

Kemudian sunahnya itu diikuti oleh para nabi dan rasul setelahnya, termasuk Al Masih Isa bin Maryam As. Diundangkannya Hukum Khitan Sabda Rasulullah Saw :“Fitrah itu ada lima, khitan, mempertajam pisau penyembelihan, mencukur kumis, menggunting kuku, dan mencabut bulu ketiak”. Rasulullah saw. Meletakkan khitan sebagai puncak perilaku fitrah, yang dimaksud dengan fitrah di sini adalah fitrah yang mensucikan badan.

Sedangkan fitrah kalbu adalah mengenal Allah swt dan mencintai-Nya. Selama ini para ulama masih berbeda pendapat tentng hukum pengkhitannan bagi laki-laki dan wanita, dan banyak ditampilkan tafsir terhadap maksud haits yang berbunyi:“Khitan adalah sunah hukumnya bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita”. (Hadits dhaif). Namun hampir semua ulama sepakat bahwa khitan adalah wajib hukumnya bagi laki-laki dan wanita para ahli fiqih memandangnya sebagai terpuji, tidak wajib.

Belum pernah Rasulullah saw. Memerintahkan seseorang mengkhitan anak wanitanya, kecuali dalam hadits dhaif yang ditulis di atas. Memilih waktu khitan Para fuqaha berbeda pendapat dalam menentukan waktu yang tepat untuk mengadakan khitan. Namun semuanya hanya berkisar dalam soal penetapan waktu saja dan tidak menyangkal suatu waktu tertentu. Memang ada sementara dari mereka memakruhkan dilaksanakan pengkhitanan pada hari ketujuh (sabtu) untuk membedakan dengan hari kaum Yahudi. Di antara ulama yang memakruhkan adalah Hasan al-Bashri dan Malik bin Anas.

Ilmu kedokteran modern menyatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk dilakukan pengkhitanan adalah seketika bayi tersebut dilahirkan. Dengan demikian sang dokter yang membantu persalinan ibunya dapat langsung mengadakan pengkhitanan. Sehingga pada waktu sang ibu keluar dari rumah sakit maka si bayi sudah benar-benar sembuh dari khitannya.

Akan tetapi penghitanan bayi itu tidak boleh dilakukan setelah si bayi berumur 24 jam pertama setelah dilhirkan kecuali setelah beberapa minggu. Hal diatas berkaitan dengan aliran darah si bayi. Setelah bayi berumur beberapa minggu maka baru boleh dilakukan pengkhitanan dan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Jika sanga bayi telah berumur tiga sampai enam bulan sebaiknya dilakukan pembiusan telebih dahulu sebelum dilakukan pengkhitanan untuk mengurangi rasa sakit.

Ada lagi ahli fikih yang berpendapat bahwa pengkhitanan itu tidak boleh dilakukan sebelum anak mencapai usia aqil baligh (dewasa) dengan alasan mereka—sebelum baligh—belum wajib menunaikan suatu ibadah yang berkaitan dengan jasmani.

Sudah berang tentu pendapat yang terakhir ini bertentangan dengan hasil penelitian  medis. Kini sudah dapt dibuktikan secara ilmiah bahwa khitan banyak melindungi orang dari berbagai penyakit yang bersarang di balik kulit kepala dzakar atau penis laki-laki, di antaranya penyait kanker.

mengKhitan bayi perempuan

Para ulama menyatakan bahwa khitan bagi perempuan hukumnya terpuji, bukan wajib. Ini sesuai dengan tradisi yang berlaku di masyarakat hingga kini.

Banyak dokter yang tidak setuju dengan khitannya anak perempuan karena dikhawatirkan tindakan ini bepengaruh buruk bagi kehidupan seksual wanita dalam rumah tangganya kelak. Karena hal inilah maka khitan bayi perempuan—pendapat sebagian besar ahli fiqih—adalah dengan memotong seminimial mingkin.

Adapun khitan anak perempuan itu deng amemotong sedikit ujung kelentit (clitoris) yang terletak di bagian atas bibir kemaluan (vulva). Imam Ahmad membawakan sebuah hadits dari Ummu Athiah bahwa Rasul pernah memperingatkan juru khitan, sabda beliau:

“Jika Anda menghitan jangan terlampau banyak memotong) karena hal itu lebih memuaskan wanita dan lebih menyenangkan bagi suami”.

Khitan rosuluallah

Berbgai riwayat telah sampai kepada kita tentang hal ini. Ada yang menyatakan bahwa Rasulullah dilahirkan sudah dalam keadaan khitan.

Ada pula yang mengatakan bw\ahwa beliau dikhitan oleh Jibril as pada waktu membelah dadanya. Ada lagi yang menyatakan bahwa kakeknya (Abdul Muthalib) yang mengkhitannya sesuai dengan tradisi Arab yang mengkhitan anak-anaknya pada hari ketujuh.

Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah adalah sudah selayaknya jika Allah swt tidak akan mengabaikan keutamaan tersebut bagi Rasul-Nya sebagaimana Dia telah mengkaruniakan hal tersebut kepada Nabi IBrahim as.

Mencukur kepala bayi

Ketika Islam mengajarkan kepada kita tentang sesuatu, tentulah tujuan utamanya untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Antara lain dapat diringkas dalam tiga hal :

· Menambah erat hubungan antara hamba dengan Rabbnya dengan ikatan ibadah dan doa;

· Membina masyarakat ideal diantara manusia yang diliputi rasa kasih sayang antara yang kaya dengan yang miskin, baik kaya materi ataupun kaya spiritual;

· Untuk kepentingan individu itu sendiri, diantaranya untak kesehatan manusia muslim itu.

Mencukur rambut bayi yang nampaknya sederhana dalam pelaksanaan, namun berguna untuk merealisasikan ketiga tujuan di atas, yakni :

  • Suatu upaya untuk mendekatkan diri pada keridhaan Allah Swt dengan mengikuti sunah Rasulnya;
  • Memperkuat pembinaan dan hubungan masyarakat serta perekonomian karena pencukuran rambut bayi diikuti dengan penimbangan berat rambut bayi dengan perak untuk disedekahkan kepada para fakir miskin;
  • Sebagai suatu sarana dan upaya penyehatan sang bayi karena dengan mencukur rambutnya berarti pori-pori kulit kepalanya menjadi lebih terbuka, rambutnya akan lebih subur, dan mungkin juga akan berpengaruh menguatkan daya penglihatan, pendengaran, dan penciuman seperti yang dikatakan Ibnul Qayyim dalam Tuhfatul Maudud.

Dikatakan dalam Muwatha Malik dari Ja`far bin Muhammad dari ayahnya, katanya : “Fathimah telah menimbang rambut putera-puterinya, yaitu Hasan, Husein, Zainab dan Ummu Kaltsum. Rambut masing-masing ditimbang dengan perak dan kemudian nilainya disedekahkan kepada fakir miskin”.

‘Atha berkata : ”Pencukuran rambut didahulukan dari pemotongan aqiqah”. Mungkin hal ini untuk membedakannya dari manasik haji agar tidak saru. Lazimnya mencukur rambut itu dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran bayi.Berbicara tentang pencukuran rambut ini maka kami akan mengomentari kebiasaan yang terjadi di kalangan kaum muslimin di sekitar kita yng mencukur sebagian rambut bayinya dan membiarakn sebagian yang lainnya, antara lain :

  • Memotong sebagian rambut kepalanya dan membiarkan sebagian lainya tanpa beraturan;
  • Mencukur bagian  tengah kepalanya dan membiarkan bagian  lainnya persis seperti yang dilakukan oleh Khadam gereja atau biarawati gereja;
  • Mencukur sekeliling kepala dan membiarkan yang bagian tengahnya persis seperti jambul;
  • Mencukur bagian depan dari kepala dan membiarkan bagian belakangnya.

Sudah barang tentu pemotongan rambut dengan sistem gaza di atas, dengan diberi jambul atau seperti rumbai-rumbai di kepalanya sehingga terlihat buruk dan tidak anggun itu adalah bukan ajaran yang diwariskan Islam. Perlakuan semacam itu bukan saja bertentangan dengan ajaran Islam malah merusak citra dan selera anak sampai dewasa kelak.

Membersihkan mulut bayi

Mulut bagian atas dari dalam disebut al-Hanak. Dan membersihkan mulut bayi disebut tahnik, artunya membersihkan mulut bagian atas bayi dari dalam dengan kurma yang telah dimamah sampai lumat benar.

Bila tidak ada kurma maka dapat diganti dengan buah-buahan manis lainnya, hal ini mengikuti sunah nabi Mungkin tujuan dari membersihkan mulut itu adalah untuk mempersiapkan mulut sang bayi untuk dapat menyusui air susu ibunya.

Demi untuk memperoleh keberkahan yang maksimal maka sebaiknya seseorang yang dipilih untuk melakukan tahnik itu adalah seseorang yang bertaqwa kepada Allah swt.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Nabi Saw pernah melakukan tahnik terhadap beberapa anak sahabat Anshar.Abu Musa Ra berkata : “Aku dikaruniai seorang putera kemudian aku membawanya kepada Nabi Saw. Beliau menamakannya Ibrahim, membersihkan mulutnya dengan kurma dan didoakan agar mendapat keberkahan. Setelah itu baru diserahkan kepadaku”.

Dikisahkan oleh Asma Ra bahwa dia tengah mengandung Abdullah bin Zubair di Mekah. Kemudian dia hijrah ke Madinah dan sesampainya di Quba beliau melahirkan Abdullah di sana. Ia pergi membawa anaknya itu ke hadapan Rasulullah Saw. Beliau letakkan bayi itu di haribaannya, meminta sebuah kurma dan dikunyahnya hingga halus benar kemudian beliau masukkan ke dalam mulut sang bayi.

Demikianlah, air liur Rasul adalah sesuatu yang masuk pertama kali ke dalam perut anak tersebut. Beliau membersihkan mulut anak tersebut dengan kurma itu kemudian didoakan agar Allah Swt berkenan memberkatinya. Ia adalah anak muslim pertama dari kaum Muhajirin yang dilahirkan di bumi Madinah. Selanjutnya ucap sayidatina Asma Ra : “Kaum muslimin bersuka ria dengan kelahirannya itu karena sudah didesas-desuskan sebelumnya kepada kaum muslimin bahwa mereka tidak akan memperoleh keturunan karena orang-orang Yahudi telah menyihir mereka”.

http://www.namaislami.com/New-Born-Baby/Membersihkan-Mulut-Bayi.html

Iklan