Galeri

Polusi udara kotor bisa infeksi saluran napas,FLU DAN BATUK

Baca 3 Baca 2 Baca 1 semoga bermanfaat dan berguna ini jujur cerita dari saya sendiri gak dibuat-buat/dibikin bikin. Perjalan dijalan umum memang sangat beresiko karena udara yang kotor dan banyak virus-virus penyebab infeksi. udara ac yang sangat dingin dan … Baca lebih lanjut

KONSULTASI Stroke dan Denyut Jantung Tidak Teratur

Diasuh oleh tim dokter RS Mediros

Tanya:
Satu tahun yang lalu, saya dirawat di rumah sakit karena mendapat serangan stroke ringan. Gejalanya, kepala pusing, badan lemas, dan tangan kiri agak lemah. Keadaan cepat membaik sehingga setelah satu minggu dirawat saya dibolehkan istirahat di rumah.
Di rumah sakit, saya diperiksa juga oleh dokter jantung dan ternyata menderita kelainan irama jantung. Kalau tidak salah dikatakan ”atrial fibrilasi”.
Dokter menyatakan stroke yang saya alami sangat besar kemungkinannya akibat penyakit jantung tersebut. Saya masih berobat teratur dan minum beberapa macam obat. Pertanyaan saya, apakah penyakit jantung saya bisa sembuh dan berapa lama lagi kemungkinan saya harus berobat?
Saat ini, saya merasa sehat. Hanya kadang-kadang timbul jantung berdebar. Apakah ada kemungkinan saya akan mendapat stroke lagi? Saya berumur 52 tahun, berat badan 78 kg, dan tinggi badan 164 cm. Ayah saya meninggal umur 59 tahun karena sakit jantung. Terima kasih atas penjelasan dokter.

Tan YH, Semarang

Jawab:
Sehubungan dengan kelainan irama jantung, Anda perlu tahu bahwa pusat pembangkit listrik jantung berada di serambi kanan (SA Node). Rangsang listrik disalurkan ke pembangkit berikutnya yang berada di tengah, antara serambi dan bilik (AV Node). Dari tempat ini, rangsang disalurkan ke kedua bilik jantung.
Pada penyakit Anda, atrial fibrilasi, dinding serambi berfungsi juga sebagai pusat listrik sehingga menimbulkan rangsang yang tidak beraturan (kacau serambi). Untunglah, tidak semua rangsang dari serambi diteruskan ke bilik jantung, sehingga tidak mengalami situasi gawat-darurat akibat kacau bilik (ventrikel fibrilasi).
Memang benar kelainan irama jantung (disritmia) jenis atrial fibrilasi seringkali menimbulkan masalah tambahan bagi yang mengidapnya, yaitu serangan gangguan sirkulasi otak (stroke). Ini terjadi karena serambi jantung yang berkontraksi tidak teratur menyebabkan banyak darah yang tertinggal dalam serambi akibat tak bisa masuk ke dalam bilik jantung dengan lancar.
Hal ini memudahkan timbulnya gumpalan atau bekuan darah (trombi) akibat stagnasi dan turbulensi darah yang terjadi. Serambi dapat berdenyut lebih dari 300 kali per menit padahal biasanya tak lebih dari 100. Makin tinggi frekuensi denyut dan makin besar volume serambi, makin besar peluang terbentuknya gumpalan darah.
Sebagian dari gumpalan inilah yang seringkali melanjutkan perjalanannya memasuki sirkulasi otak dan sewaktu-waktu menyumbat sehingga terjadi stroke. Pada penyakit katup jantung, terutama bila katup yang menghubungkan antara serambi dan bilik tak dapat membuka dengan sempurna, maka volume serambi akan bertambah, dindingnya akan membesar dan memudahkan timbulnya rangsang yang tidak teratur. Sekitar 20 persen kematian penderita katub jantung seperti ini disebabkan oleh sumbatan gumpalan darah dalam sirkulasi otak.
Atrial fibrilasi dapat berlangsung sesaat saja atau terus-menerus. Pada salah satu keadaan dari sindroma praeksitasi, fibrilasi ini berlangsung tidak terus-menerus. Tapi pada sebagian besar keadaan, fibrilasi ini berlangsung lama, bergantung pada penyakit dasar yang menyertainya. Atrial Fibrilasi bisa berhubungan dengan pneumonia (infeksi paru-paru), penyakit kelenjar tiroid (hipertiroidi), penyakit jantung bawaan, penyakit jantung reumatik, penyakit jantung iskemik, dan lain-lain.
Hal yang terakhir ini perlu ditelusuri lebih lanjut mengingat Anda memiliki faktor risiko seperti kegemukan pada seorang pria berusia lebih dari 40 tahun. Barangkali bila diperiksa lebih lanjut akan ditemukan deretan faktor risiko lainnya, misalnya profil lemak yang tidak sesuai (dislipidemia), gula darah yang tidak terkontrol (diabetes melitus), perokok, kurang aktivitas olahraga dan stress yang tak kunjung reda.
Makin banyak faktor risiko yang dimiliki, makin besar peluang mengalami penyakit jantung iskemik dan atau stroke. Iskemik ini seringkali mengakibatkan timbulnya fokus baru sebagai sumber rangsang listrik pada daerah serambi sehingga memicu timbulnya atrial fibrilasi.
Bila riwayat perjalanan penyakit sampai mengalami atrial fibrilasi berlangsung seperti itu, maka keberhasilan mengatasi atrial fibrilasi, seperti yang Anda alami, bergantung pada sampai sejauh mana faktor-faktor risiko tersebut diatasi. Pemeriksaan non-invasif ultrasonografi jantung (ekokardiografi) untuk melihat ruang-ruang jantung dan mengintip adanya sumber sumbatan (trombus) dalam serambi, mutlak diperlukan karena akan berimplikasi pada pengobatan.

Pengobatan
Tujuan utama pengobatan ialah meniadakan kelainan irama jantung. Bila hal ini tak dapat diraih, maka pengobatan diarahkan untuk mengendalikan kecepatan denyut jantung agar frekuensinya tidak terlampau cepat, biasanya tidak melebihi 100 kali per menit. Makin lambat berdenyut, makin baik. Bila Anda masih merasa berdebar-debar, hal ini bisa karena timbulnya ekstra denyutan atau frekuensi kontraksi bilik jantung pada atrial fibrilasi yang sewaktu-waktu bertambah cepat.
Dengan demikian, seandainya dari antara obat-obatan yang sedang diminum saat ini terdapat golongan digitalis, maka pertahankanlah terus obat tersebut karena selain sebagai penguat kontraksi juga sebagai pengendali frekuensi jantung.
Karena sumbatan pada pembuluh darah otak berhubungan dengan atrial fibrilasi kronis pada jantung, maka perlu dipertimbangkan pemberian obat yang menyebabkan darah tidak mudah membeku (antikoagulan) sehingga memperkecil kemungkinan timbulnya gumpalan baru dan penyumbatan. Beberapa uji klinis yang besar menyimpulkan bahwa pemberian antikoagulan akan menurunkan frekuensi stroke sampai 60 persen.
Bila setelah dievaluasi ternyata respons frekuensi bilik jantung terhadap atrial fibrilasi sulit dikendalikan dan peluang untuk mengalami stroke berulang masih cukup besar, maka perlu dipertimbangkan tindakan kardioversi.
Kardioversi adalah metode sederhana menghentikan irama jantung dengan cara meletakkan dua buah cakram elektrode di bagian atas dan bawah kiri permukaan dada, kemudian dilakukan shock aliran listrik searah. Kejutan listrik diawali dengan energi rendah, meningkat sesuai kebutuhan.
Respons pasien berupa sentakan tunggal dari otot dada dan tarikan ringan dari lengan. Ritme normal segera terlihat di monitor dan beberapa waktu kemudian dapat segera melakukan aktivitas seperti semula. Lebih mutakhir lagi, pada keadaan atrial fibrilasi menjadi bagian dari penyakit pusat pembangkit listrik utama jantung, perlu dilakukan tindakan ablasi pada AV Node dengan memasukkan kateter kecil ke dalam jantung melalui pembuluh nadi di lengan atau di lipat paha, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan pacu jantung sebagai pengendali irama. Demikian jawaban kami dan semoga lekas sembuh.

Dr.Doli Kaunang, SpJP
Ahli Jantung. RS Mediros

Copyright © Sinar Harapan 2003

TERAPI ALAM

Seledri, Tanaman Anti-frigiditas dan Pengharum Napas

JAKARTA – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) baru-baru ini menarik 100 jenis suplemen makanan dari peredaran. Salah satunya adalah Nature Strengh Cellery Seed, ekstrak biji seledri yang dikeluarkan oleh PAN Pharmaceuticals Australia. Sebenarnya apa khasiat seledri? Kalau produk ekstraknya ditarik dari pasaran, tidak ada salahnya kita mencoba yang alami.
Seledri (Apium graveolens L.) sudah lama dikenal sebagai obat darah tinggi atau hipertensi. Tanaman yang juga terlihat cantik jika ditanam dalam pot ini lebih dulu dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Daun seledri biasa dipakai untuk memperkaya cita rasa sajian atau kaldu. Sup kacang merah dan bubur ayam kurang lengkap rasanya jika tanpa taburan daun seledri di dalamnya. Di Eropa, batang seledri yang besar sering dibuat sebagai salad dengan saus mayones atau bechamel (saus berbahan dasar susu) sebagai isi roti sandwich.
Tanaman yang sudah dikenal sejak sejarah awal Mesir, Yunani dan Romawi ini sebenarnya termasuk jenis sayuran yang diambil batangnya. Meski demikian dalam kesusastraan kuno terdapat dokumen yang menyebutkan seledri atau tanaman sejenisnya telah ditanam guna keperluan pengobatan sejak 850 Sebelum Masehi. Biji tanaman asli lembah sungai Mediterranian ini digunakan oleh tabib Ayurveda kuno untuk mengobati demam, flu, penyakit pencernaan, beberapa tipe arthritis, penyakit limpa dan hati.
Berdasarkan penelitian, tanaman keluarga Apiaceae ini mengandung natrium yang berfungsi sebagai pelarut untuk melepaskan deposit kalsium yang menyangkut di ginjal dan sendi. Ia juga mengandung magnesium yang berfungsi menghilangkan stres. Daun seledri mengandung protein, belerang, kalsium, besi, fosfor, vitamin A, B1 dan C. Berdasarkan hasil penelitian, seledri juga mengandung psoralen, zat kimia yang menghancurkan radikal bebas biang penyebab kanker.
Masyarakat pedesaan telah lama memanfaatkan seledri sebagai obat untuk menurunkan panas dengan cara mengoleskan tumbukan daun seledri ke kepala anak yang terserang demam. Air perasan seledri yang mempunyai sifat mendinginkan dipercaya dapat mendinginkan kepala. Berdasarkan pengalaman beberapa orang, air perasan daun seledri dapat sekaligus menyuburkan dan menghitamkan rambut serta tidak mempunyai efek samping.

Rebusan Batang
Khasiat seledri dapat dinikmati dengan merebus sebatang seledri ukuran sedang dengan satu gelas air. Ramuan ini cukup diminum sekali sehari. Kegunaannya antara lain mengobati hipertensi, rematik, radang usus buntu, tifus, keracunan, batuk rejan, asma, gangguan prostat, dan demam.
Untuk penderita hipertensi anfal, satu ons daun seledri bersama tangkainya ditumbuk sampai lembut lalu dituangi dengan beberapa sendok air matang lalu disaring dan diminumkan cukup sehari sekali. Setelah minum ramuan ini disarankan untuk beristirahat total selama dua jam.
Seledri juga dapat mengobati diare, diabetes, epilepsi, migran, buang air kecil yang mengandung darah, mencegah stroke, memperbaiki fungsi hormon, dan membersihkan darah. Jus seledri yang berdaun besar berkhasiat meningkatkan kecerdasan, mengatasi herpes dan gondokan.
Seledri yang ditumbuk halus dan dioleskan ke bagian-bagian tertentu dapat mengurangi minyak pada wajah, menyembuhkan encok, menyuburkan rambut, dan mengurangi rasa sakit karena terkilir. Bahkan mengoleskannya pada kepala bayi sehabis dicukur, dipercaya dapat melebatkan rambutnya sampai dewasa.
Bila tahan dengan baunya, seledri juga cukup sedap untuk dilalap. Hal ini dapat mengatasi aroma mulut yang tidak sedap terutama jika dikunyah-kunyah begitu saja lalu dihisap airnya. Napas akan berbau sedap karena klorofil yang terkandung dalam seledri dapat menetralkan aroma busuk. Klorofil ini juga sangat bermanfaat menghilangkan masuk angin berat dalam lambung atau perut besar. Selain itu seledri juga dapat meredam keluarnya histamin pada penderita alergi dan gatal-gatal.
Untuk mengobati sakit mata, dua tangkai seledri ditambah dua tangkai daun bayam dan setangkai kemangi ditumbuk lalu diseduh dengan satu gelas air panas lalu disaring dan diminum.
Jus seledri selain berkhasiat bagi perempuan yang mengalami nyeri sewaktu haid, keputihan dan gangguan pada masa menopause juga dapat mengatasi frigiditas dan meningkatkan daya seksual perempuan. Hal ini karena seledri dapat melancarkan sirkulasi darah dan membantu rileksasi otot polos.
Khasiat seledri makin kaya bila dibuat jus dengan kombinasi, sayuran, buah-buahan seperti lobak bulat (Raphanus sativus), apel (Malus pumila mill), nanas (Ananas comosus), dan asparagus (asparagus officinalis), susu segar, dan madu. Kombinasi antara seledri dengan nanas, susu dan madu secukupnya dapat digunakan untuk mengobati anemia. Jus kombinasi ini juga manjur untuk orang yang cepat lelah, letih, lemas, jantung berdebar, dan pelupa.
Jus kombinasi antara seledri, asparagus, wortel, jeruk lemon, apel dan madu cukup mujarab untuk mengobati nyeri saraf (neuralgia), anemia, tekanan darah tinggi, pengerasan pembuluh darah, menurunkan kolesterol, hepatitis, dan mencegah penyakit kanker. Sedangkan jus kombinasi antara seledri, lobak, apel, jeruk keprok, dan gula pasir secukupnya berkhasiat mengobati hipertensi, jantung koroner, mencegah kanker usus, melancarkan pencernaan, menurunkan kolesterol, dan baik untuk bagi kesehatan perempuan hamil.
Namun konsumsi seledri berlebihan juga tidak dianjurkan karena dikhawatirkan malah dapat mengganggu kesehatan.
(nat)

Copyright © Sinar Harapan 2003

Hubungan ”Otak Kosong” dengan Gizi Buruk

INDONESIA harus menelan ”pil pahit” karena hanya sebagian kecil dari penduduknya yang kebutuhan gizinya tercukupi. National Socio-Economic Survey (Susenas) mencatat, pada tahun 1989 saja ada lebih dari empat juta penderita gizi buruk adalah anak-anak di bawah usia dua tahun. Padahal menurut ahli gizi, 80 persen proses pembentukan otak berlangsung pada
usia 0-2 tahun.
Ada sekitar 7,6 juta anak balita mengalami kekurangan gizi akibat kekurangan kalori protein. Itu data yang dihimpun Susenas empat tahun lalu. Bukan tidak mungkin saat ini jumlahnya meningkat tajam karena krisis ekonomi yang berkepanjangan ditambah dengan masalah pangan yang sulit didapat. Bahkan menurut United Nations Children’s Fund (Unicef) saat ini ada sekitar 40 persen anak Indonesia di bawah usia lima tahun (balita) menderita gizi buruk.
Menurut ahli gizi Ir. Tatang S. MSc, seorang anak yang pada usia balita kekurangan gizi akan mempunyai Intellegent Quotient (IQ) lebih rendah 13-15 poin dari anak lain pada saat memasuki sekolah.
Hal itu dibenarkan oleh Dr. Soesilawati dari Rumah Sakit Mitra yang berpendapat bahwa perkembangan otak anak usia balita sangat ditentukan oleh faktor makanan yang dikonsumsi. ”Zat gizi seperti protein, zat besi, berbagai vitamin, termasuk asam lemak omega 3 adalah pendukung kecerdasan otak anak. Zat-zat itu bisa didapat dari makanan sehari-hari seperti ikan, telur, susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Singkatnya, pola makan seorang anak haruslah bervariasi, tidak hanya satu atau dua jenis saja,” ujar Soesilowati menjelaskan.

Gizi Pendukung Otak
Asam lemak esensial omega 3 merupakan zat yang berperan vital dalam proses pertumbuhan sel-sel neuron otak untuk bekal bayi yang dilahirkan. Ibu hamil masa kini dapat mengonsumsinya melalui banyaknya produk susu khusus ibu hamil. Asam alfa linoleat (LNA), eikosapentaetonat (EPA) serta dohosaheksaenoat (DHA) adalah tiga bentuk asam omega 3 yang telah masuk dalam proses elongate (dipanjangkan) dan desaturate (diubah menjadi tidak jenuh).
”Produk-produk susu yang mengklaim dirinya mengandung DHA atau omega 3 perlu diuji dulu secara klinis untuk membuktikan kebenarannya. Mungkin memang produk itu mengandung zat yang disebut tapi tentu hanya dalam jumlah kecil saja,” komentar Tatang. Ia menganjurkan agar baik anak-anak maupun ibu hamil lebih banyak mengonsumsi sumber-sumber alami dari semua gizi yang dibutuhkan tubuh. Asam lemak omega 3 banyak terdapat dalam ikan atau minyak ikan. Begitu juga protein yang terdapat pada kacang-kacangan, telur, dan ikan.
Sementara zat besi tidak kalah penting dalam menunjang kerja otak. Kekurangan zat besi bisa mengurangi produksi sel darah merah. Remaja perempuan yang kurang mengonsumsi zat besi cenderung mempunyai IQ rendah, demikian hasil riset terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari King’s College, London. Ada hubungan signifikan antara rendahnya level hemoglobin dengan performance mental seseorang.
Hemoglobin adalah protein yang terdapat dalam sel darah merah yang memainkan peran penting dalam transportasi oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Maka zat besi menjadi komponen esensial bagi hemoglobin. Tanpa mendapat tambahan zat besi maka tubuh kita tidak mampu menghasilkan jumlah sel darah merah yang cukup.
Inilah mengapa perempuan hamil dan perempuan pekerja membutuhkan asupan zat besi. Perempuan hamil memerlukannya dua kali lebih banyak dari saat dirinya tidak hamil. Sedangkan perempuan pekerja membutuhkan tambahan zat besi karena di samping melakukan kegiatan sehari-hari yang lumayan keras, ada masa menstruasi yang menyebabkan mereka terancam anemia.
Riset yang dilakukan Dr. Michael Nelson dari Inggris membuktikan bahwa perempuan pekerja yang menderita anemia mempunyai poin IQ lebih rendah daripada yang tidak menderita anemia.
”Untuk mendapatkan zat besi secara alamiah bisa dengan cara memakan sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan dan ikan. Jika memang mampu akan lebih baik didukung dengan asupan zat besi yang sudah banyak dijual bebas,” ujar Soesilowati.
Sementara Dr. Nelson menjelaskan bahwa korelasi antara zat besi dengan kecerdasan sangat sederhana. Kurangnya zat besi akan mengurangi jumlah hemoglobin. Otomatis hal ini membuat suplai oksigen terhambat ke otak dan membuat otak tidak bisa bekerja secara optimal. Bagaimanapun juga jumlah enzim yang mengatur sinyal transmisi ke otak juga bergantung pada zat besi. ”Penyerapan zat besi akan lebih efektif jika kita juga mengonsumsi vitamin C dalam jumlah cukup,” ujar Soesilowati.

Asupan Gizi
Banyaknya produk suplemen vitamin yang kini beredar secara bebas bisa berdampak baik sekaligus berdampak buruk. Menurut Tatang, suatu produk suplemen harus menjalani uji klinis dulu sebelum dipasarkan. Ia menegaskan agar kita tidak terlena begitu saja dengan rayuan iklan yang terlalu bombastis.
Tapi di sisi lain produk suplemen yang memang bisa dipercaya kebenarannya sangat berguna bagi kebanyakan orang yang tidak sempat mendapatkan gizi tersebut dari makanan sehari-hari.
”Lebih baik kalau berbagai kebutuhan gizi didapat dari makanan langsung, bukan asupan atau suplemen yang dijual bebas. Sebab tak seorang pun yang bisa menjamin keamanannya,” tambah Soesilawati. ”Kecuali kalau asupan itu memang dianjurkan oleh dokter atau didapat dari dokter.”
Sedangkan anak usia 0-2 tahun sebaiknya mendapatkan Air Susu Ibu (ASI). Seperti yang dikatakan Tatang bahwa ASI mengandung semua zat yang dibutuhkan dalam perkembangan otak anak.
Banyak produk susu kaleng atau susu formula yang dalam iklan disebutkan mengandung asam linoleat, DHA dan sebagainya. Namun sampai detik ini tidak ada bukti yang bisa berkata bahwa susu formula mampu menyamai khasiat ASI.(mer)

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/01/4/kes01.html

Remehkan Kesehatan Gigi Picu Diabetes

JANGAN sepelekan sakit gigi. Sebab jika dibiarkan, kerusakan gigi yang serius bisa memicu timbulnya penyakit lain. Diabetes hanya satu dari banyak penyakit yang bisa hadir akibat sakit gigi yang ditelantarkan.
Umum diketahui bahwa penderita diabetes rata-rata mempunyai gangguan kesehatan gigi. Hal itu diperkuat dengan studi penelitian di Amerika Serikat (AS) yang menyatakan penderita kerusakan gigi kronis bisa menjadi pengidap penyakit diabetes tipe 2. Ahli diabetes dan gigi di Inggris menyetujui hasil riset itu walau perlu penelitian lebih dalam lagi.
Pada kerusakan gigi yang parah, bakteri dapat masuk ke aliran darah dan mengganggu sistem kekebalan tubuh. Sel sistem kekebalan tubuh yang rusak melepaskan sejenis protein yang disebut cytokines. Cytokines inilah penyebab kerusakan sel pankreas penghasil insulin, hormon yang memicu diabetes.
Penemuan peneliti AS ini diumumkan saat simposium National Institute of Dental and Craniofacial Research di Maryland. Dr. Anthony Iacopino, ahli gigi di Marquette University School of Density, Wisconsin mengatakan bahwa di dalam pankreas, sel yang bertanggung jawab sebagai penghasil insulin dirusak oleh kandungan cytokines yang tinggi. Jika ini terjadi sekali saja, maka seseorang berpeluang menderita diabetes tipe 2, walaupun orang itu sebelumnya dalam keadaan sehat.
Menurut Iacopino, tingginya kandungan kolesterol dari glukosa yang dibutuhkan tubuh merupakan faktor utama pemicu risiko diabetes bagi orang yang mengalami kerusakan gigi. Dan kolesterol rendah dapat menolong orang sehat untuk tidak terserang problem gangguan gigi yang mampu memicu diabetes.
Untuk itu, penderita diabetes sebaiknya mengikuti diet rendah kalori, rajin mengonsumsi obat pengatur hormon insulin dan menjaga kesehatan gigi. Dan alangkah baiknya jika orang sehat juga ikut menjaga kesehatan giginya agar tidak berisiko terkena diabetes.
Radang gusi adalah jenis penyakit gigi yang paling ringan, disebabkan oleh bakteri dalam plak. Penyakit ini masih bisa disembuhkan, tapi jika disepelekan tanpa perawatan lebih lanjut bisa berkembang menjadi penyakit gigi yang parah juga. Plak yang menempel pada rongga antara gusi dan gigi mampu menimpulkan infeksi dan menyebabkan kasus serius. Bahkan pada stadium tertentu, gigi harus dicabut.
Diabetes merupakan kondisi di mana tubuh tidak mampu meregulasi kandungan glukosa. Artinya, tekanan darah bisa menjadi sangat tinggi. Pengobatan dengan insulin bisa membantu tubuh mengontrol jumlah glukosa pada aliran darah.
Pada diabetes tipe 2, insulin diproduksi sangat sedikit sehingga tidak cukup jumlahnya untuk keperluan tubuh manusia. Biasanya hal ini sangat berpengaruh pada orang berusia di atas 40 tahun. Untuk mengatasinya dibutuhkan diet teratur dan mengonsumsi pil atau suntikan reguler.
Juru bicara British Dental Association (BDA) mengatakan bahwa segala yang terjadi pada tubuh manusia selalu bisa dihubungkan dengan penyakit gangguan gigi. Maka bukan tak mungkin bahwa diabetes hanya salah satu gangguan kesehatan yang ada hubungannya dengan penyakit gigi. Ia juga menyarankan agar setiap orang membiasakan menggosok gigi dua kali sehari dengan pasta gigi flouride serta mengunjungi dokter gigi secara reguler.
(berbagai sumber/mer)

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/02/1/kes04.html

Q Tinggi Bukan Jaminan

Diasuh Oleh Tim Dokter RS Mediros

Tanya :
Anak laki-laki saya berumur 11 tahun duduk di kelas 5 Sekolah Dasar. Nilai rapornya pada Catur Wulan petama ini menurun lagi dibandingkan dengan nilai-nilai rapor sebelumnya. Memang anak saya tidak pernah masuk ranking di kelasnya, namun saya tetap berharap agar nilainya bisa lebih baik dari biasanya.
Beberapa bulan lalu diadakan tes IQ di sekolah anak saya itu. Menurut wali kelas, anak saya termasuk sangat cerdas karena IQ-nya 129 itu tergolong superior. Yang saya herankan, mengapa nilai-nilai sekolahnya tidak sesuai dengan taraf kecerdasannya..
Perlu saya jelaskan bahwa anak ini tidak pernah tekun belajar. Kalau dibandingkan dengan kakak-kakaknya dulu sewaktu SD yang cara belajarnya diulang-ulang dan selalu mau kalau saya bantu belajar dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, anak ini kalau belajar cukup sekali baca. Tampaknya dia lebih suka menghabiskan waktu untuk kegiatan-kegiatan ekstra kurikulernya (olahraga) dan bermain dengan kawan-kawan sebayanya daripada memegang buku pelajaran sekolah.
Setiap tahun ajaran saya selalu waswas karena setiap Cawu pertama pasti nilainya pas-pasan. Cawu ke-2 nilai-nilainya tetap rata-rata sekitar 61/2. Saya selalu khawatir kalau waktu kenaikan kelas nilai turun dan tidak naik kelas. Kalau saya minta untuk mengurangi kegiatan ekstra kurikuler atau mengurangi waktu bermain, baca buku dan nonton tv, dia akan ‘ngambek’. Untuk membiarkannya dengan gaya belajarnya saya khawatir. Tetapi kalau dikerasi, dia malah lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temannya bermain bola kaki, bersepeda keliling kompleks, atau main play station di rumah teman walaupun temannya itu sedang belajar. Kadang-kadang anak ini belajar bersama temannya, tapi temannya masih belajar dia sudah main, atau baca buku. Nah, ini juga yang membuat saya pusing, kalau diajak pergi selalu minta dibelikan buku bacaan, majalah atau cerita bergambar. Sekali beli tidak pernah kurang dari 3 buku, tapi belum sehari sudah selesai dibaca. Majalah dan buku bacaannya ini disimpan di rak dan akan dibacanya lagi berulang-ulang. Koleksi buku bacaannya memang banyak, jadi kalau dimarahi dia akan ‘bertapa’ di kamarnya baca buku-buku itu.
Di sekolah anak saya ini sering dipindahkan oleh guru dari tempat duduknya sendiri ke bangku dekat guru hampir di bawah papan tulis agar anak ini tidak bercanda dengan teman-teman sekitarnya. Bila guru menerangkan, kadang-kadang dia tidak tampak menyimak karena sambil menggambar, namun bila dikageti dengan pertanyaan oleh guru anak ini bisa menjawab dengan baik apa yang sudah diterangkan oleh guru.
Mohon advis bagaimana saya harus bersikap terhadap anak ini ?

Ny. Wijaya, Bekasi
Ny. Tresno, Yogyakarta
(dengan pertanyaan yang mirip)

Jawab :
IQ 129, menurut Skala Stanford Binet tergolong taraf kecerdasan superior. Seseorang dengan tingkatan inteligensi demikian diharapkan dapat mengikuti pendidikan tanpa kesulitan yang berarti. Namun, intelligensi tinggi saja belum menjamin keberhasilan seseorang dalam mengikuti kegiatan akademis, karena perkembangan dan kematangan sosial serta emosionalnya juga berperan. Selain itu, pola kepribadian anak juga ikut memberi pengaruh pada sikap anak terhadap tugas.
Dalam lingkungan belajar, di samping kecerdasan, anak harus bisa memusatkan perhatian pada pusat informasi, apakah itu berupa penjelasan guru atau buku yang dibacanya, untuk suatu jangka waktu tertentu guna menyerap informasi tersebut dengan baik. Kemudian proses yang terjadi dalam diri anak adalah menyimpan informasi yang diterimanya dalam memory-nya dan kemudian menuangkan kembali isi ingatannya tadi, misalnya waktu kuis, ulangan dsb.
Bila anak masih menampilkan suasana bermain dalam dirinya, suasana belajar pun dianggapnya sebagai arena bermain, maka hasil yang diharapkan kemungkinan besar tidak sesuai dengan harapan orang tua maupun gurunya.
Masalahnya di sini adalah harapan orang tua dan guru menjadikan anak cerdas menduduki ranking atas di sekolah yang tidak sesuai dengan pengembangan pribadi si anak yang masih ingin menikmati suasana bermain semasa kanak-kanak.
Orang tua pada umumnya akan bangga mempunyai anak yang cerdas dan dibuktikan dengan nilai rapor yang tinggi dan anak termasuk ranking atas di sekolah, kemudian setelah lulus suatu jenjang sekolah akan mudah diterima di sekolah lanjutannya, terutama sekolah favorit.

Kekhawatiran Ibu bisa dimengerti, namun hendaknya Ibu mencoba untuk bersikap lebih persuasif agar maksud baik Ibu jangan malah ditolak oleh anak. Sebaiknya Ibu dengan tenang menelaah dahulu satu persatu kondisi yang ada pada anak Ibu.
Pertama : apakah anak Ibu tidak peduli bila mendapat nilai buruk ? Tampaknya tidak, karena melihat nilai-nilai yang sebetulnya cukup stabil membuktikan bahwa anak Ibu juga tidak masa bodoh dengan prestasi skolastiknya. Ia tetap berusaha agar di sekolah dia tidak dimasukkan kelompok anak yang kurang pintar. Berarti anak ini sebetulnya mengerti mengenai kewajiban atau tanggung jawabnya. Hanya saja tidak diperlihatkannya dalam bentuk kepatuhan dan disiplin yang diharapkan orang tua dan guru.
Diharapkan dengan bertambahnya usia, dan dengan kegiatannya berolahraga anak ini belajar berkompetisi secara sehat dengan kawan-kawannya, juga dalam menampilkan prestasi sekolah.
Mungkin karena anak Ibu daya tangkap dan daya ingatnya baik, maka dia merasa kurang perlu untuk mengulang-ulang belajar atau terus-menerus ‘memelototi’ guru yang di depan kelas. Tetapi dengan caranya sendiri dia tetap mempertahankan nilai-nilainya tidak jatuh ke kelompok ‘minus’. Memang anak akan menjadi bosan bilamana kegiatan yang diikutinya tidak lagi memberi tantangan dan sudah kurang daya tariknya sehingga dia mengalihkan perhatian pada kegiatan lain. Kalau kita berpikir positif, maka ini adalah nilai inisiatif pada si anak, tetapi masalahnya adalah perbedaan persepsi antara anak dan orang dewasa yang ada di sekitarnya.
Kedua : apakah anak Ibu selalu murung, takut ke sekolah, tidak suka bergaul karena kurang percaya diri ? Jawabannya juga tidak, anak Ibu tergolong aktif dengan sosialisasi yang baik. Bahkan di kelas pun dia terbawa teman-temannya untuk bercengkerama sehingga guru perlu memisahkannya dari lingkungan karena anak Ibu bila dirangsang oleh kawan-kawannya akan lupa bahwa dia berada dalam suasana belajar yang mestinya tertib dan tidak ribut atau bercanda. Anak Ibu termasuk anak yang disukai teman-temannya sudah merupakan hal yang baik dalam perkembangan sosialnya.
Masih ada segi-segi lain yang baik pada anak Ibu, namun melihat pada kedua hal di atas saja, sebetulnya Ibu tidak perlu terlalu risau karena justru anak ini menampilkan profil kepribadian yang seimbang dalam segala aspeknya, ia juga tampak menikmati masa keemasan anak secara normal.
Mungkin ada baiknya bila Ibu lebih banyak berbicara dengan anak, bukan mendesak terus-menerus untuk belajar, tetapi misalnya membahas kehidupan yang lebih luas, seperti kerasnya persaingan dalam bekerja karenanya seseorang perlu membekali diri dengan ilmu dan keterampilan serta mungkin gelar kesarjanaan agar dapat menang dalam persaingan. Atau membicarakan seorang tokoh yang sukses, bukan sekadar mengagumi, tetapi ada bahasan mengenai latar belakang pendidikan dan upaya sang tokoh mencapai suksesnya.
Selain itu Ibu bisa memberikan dukungan moral bagi kegiatan-kegiatan yang dilakukannya saat ini dan menyisipkan bekal norma-norma kehidupan, agar anak ini merasa diperhatikan dan diterima oleh orang tua. Dan yang tidak kalah pentingnya, tanpa menunggu prestasi yang spektakuler, Ibu sesekali dapat menyatakan kebanggaan kepada anak Ibu akan prestasi yang sudah dicapainya, agar dapat memotivasinya untuk meningkatkan upayanya di kemudian hari. Bila anak Ibu dengan kemauannya sendiri belajar, tanpa desakan atau tekanan dari lingkungan diharapkan tumbuh rasa tanggung jawab dan kompetisi yang sehat, dan dengan bekal taraf inteligensinya yang superior akan mudah baginya mencapai keberhasilan.

Dra. Grace A. Lumenta, Psi.
Psikolog

http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2002/01/4/kes02.html

NUKLIR

Pekerja Industri Nuklir Berisiko Kanker

LONDON – Bahaya industri nuklir memang sudah lama disinyalir banyak orang. Untuk itu dikembangkan berbagai upaya demi mengurangi efek radiasi nuklir bagi para pekerjanya. Namun sebuah studi terbaru membuktikan bahwa dosis kecil radiasi juga tetap berisiko menderita kanker. “Kami telah membuktikan, radiasi paling rendah sekalipun tetap mengakibatkan kanker,” ujar Dr Elisabeth Cardis, pimpinan divisi radiasi di International Agency for Research on Cancer (IARC) Lyon, Prancis seperti yang dikutip Reuters belum lama ini.
Bahkan risiko ini hampir mirip dengan apa yang diperkirakan ilmuwan berdasar data korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki di Jepang tahun 1945. Standar perlindungan terhadap radiasi selama ini mampu membatasi ekspos radiasi ionisasi hingga 100 millisieverts (mSv) selama lima tahun. Sedangkan selama kurun satu tahun hanya mengurangi sebesar 1 mSv saja. Menurut Cardis, sampai sekarang masih menjadi kontroversi ihwal standar ini, apakah memang sudah cukup melindungi publik dan pekerja nuklir. Studi terbaru Cardis dan kawan-kawan yang dipublikasikan di British Medical Journal ternyata memperlihatkan bahwa risko kena kanker masih tetap memungkinkan.
Studi terbesar yang melibatkan 407.000 pekerja industri nuklir ini menghasilkan angka kumulatif yang menjelaskan bahwa 10 persen dari mereka berisiko meninggal akibat kanker. Sedangkan 19 persen berisiko kena leukemia. Semua pekerja industri nuklir tersebut didata dari 15 negara yang setiap harinya mengalami radiasi nuklir dosis rendah.
Mayoritas para pekerja tersebut berusia tua yang berarti sudah cukup lama mengalami radiasi nuklir. Makin lama kurun waktu mereka bekerja, makin tinggi risiko yang dimiliki. Sebab para pekerja usia lanjut sempat mengalami standar proteksi terhadap radiasi nuklir belum sebaik saat ini.(mer)

Porsi Makan Anak Jangan Berlebihan

NEW YORK – Kebiasaan makan anak ternyata juga dipengaruhi seberapa besar porsi makan yang kita beri pada mereka. Maka jangan sembarangan memberi porsi sesuai dengan selera kita. Temuan berdasar studi ilmuwan asal Cornell University ini berlawanan dengan teori sebelumnya. Dulu orang berpendapat bahwa anak-anak akan dengan sendirinya menentukan porsi makannya.
“Kami telah menguji semua hal yang kami prediksi bisa mempengaruhi seberapa banyak makanan yang dilahap anak-anak.” Papar David Levitsky, profesor bidang gizi dan psikologi dari Cornell University seperti yang dikutip AP baru-baru ini. “Kami menemukan bahwa besarnya porsi makanan yang kita hidangkan di piring akan menjadi faktor penting yang memengaruhi seberapa besar makanan yang masuk ke perut si anak.”
Selama ini orang tua cenderung menghidangkan makanan sebanyak-banyaknya di piring si anak agar anak mau makan dalam jumlah banyak. Padahal secara tak langsung ini sama saja dengan membuat anak terbiasa melahap makanan dalam porsi besar. Kebiasaan ini akan terus berlanjut hingga saat mereka makan di luar rumah. Bisa dibayangkan kebiasaan ini terbawa sampai usia remaja dan dewasa. Bahkan lebih parah lagi apabila mereka terbiasa menyantap makanan cepat saji berkalori tinggi dalam porsi besar pula. Pola makan seperti inilah yang akhirnya memicu obesitas.
Studi Levitsky beserta timnya ini melibatkan 16 orang anak yang duduk di bangku prasekolah usia 4-6 tahun. Makin banyak porsi yang diberikan pada anak-anak itu, makin besar pula makanan yang dikonsumsinya.(mer)

Copyright © Sinar Harapan 2002

HIV SEMBUH DENGAN DARAH BUAYA

Darah Buaya Bisa Jadi Obat HIV

SYDNEY – Bukan hanya kulitnya saja yang berguna, darah buaya ternyata bisa bermanfaat sebagai antibiotik ampuh bagi manusia. Bahkan darah reptil itu juga mampu membunuh sistem kekebalan virus HIV. Ini terbukti dari kekebalan tubuh buaya yang jauh lebih kuat dibanding dengan manusia. Mereka mampu mencegah diri dari pelbagai infeksi.
“Buaya dapat hidup dalam lingkungan bersama dengan mikroba-mikroba dan dengan keadaan bebas infeksi,” ungkap Mark Merchant, ilmuwan Amerika Serikat (AS) yang telah menganalisa sample darah buaya kepada Reuters baru-baru ini.
Setelah melakukan tes tabung pada HIV dan menambahan serum buaya ke dalamnya, ilmuwan menemukan efek jauh lebih besar dibanding serum manusia. Serum itu bisa membunuh organisme HIV dalam jumlah banyak.(mer)

Kaki Membusuk, Kil Laporkan Dua RS

JAKARTA – Karena kakinya membusuk saat dalam perawatan, Jeon Sang Kil alias Muhammad Jhon Sangkil melaporkan dua rumah sakit (RS) ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Selasa awal pekan ini, dengan tuduhan telah melakukan perbuatan sehingga menyebabkan cidera.
”Akibat kaki membusuk saat dirawat di dua rumah sakit, kaki kanan Kil terpaksa diamputasi oleh dokter karena kondisinya telah parah,” kata kuasa hukum Kil, Iskandar Sitorus, SH dari Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan (LBHK), di Jakarta, Selasa (16/8).
Kedua rumah sakit yang dilaporkan tersebut adalah RS di Tangerang dan RS di Jakarta Pusat. (ant/ads)

Copyright © Sinar Harapan 2003

KATARAK

Pilot Berisiko Katarak

CHICAGO – Jangan keburu bangga punya pacar atau suami pilot. Justru para penerbang yang terkesan gagah yang berisiko tinggi terserang katarak. Temuan ilmuwan University of Iceland ini berdasar studi mereka terhadap 445 lelaki berusia di atas 50 tahun. Dari jumlah tersebut ditemukan 79 orang yang berprofesi sebagai pilot ternyata penderita katarak. Ini berarti para pilot berisiko tiga kali lipat lebih besar terserang katarak dibanding yang bukan pilot.
Penyebabnya adalah, para pilot terlalu sering memandang cahaya kosmik angkasa. Jenis katarak yang mereka derita adalah yang biasa, yakni katarak nuklir.
“Hubungan antara ekspos radiasi kosmik dan katarak terkait juga dengan kebiasaan merokok, usia dan kebiasaan lainnya. Ternyata radiasi sinar kosmik merupakan faktor terbesar penyebab katarak,” jelas Vilhjalmur Rafnsson, anggota tim ilmuwan yang mempublikasikan temuannya di jurnal Archives of Ophthalmology seperti yang dilansir Reuters baru-baru ini. (mer)

Mati Karena Gangguan Tidur

WASHINGTON – Gangguan tidur tak bisa dianggap remeh. Salah-salah bisa saja kita meninggal dalam tidur. Mereka yang meninggal dikala tidur biasanya disebabkan berhentinya proses bernafas mengakibatkan kehilangan banyak sel otak. Selama ini gangguan tidur dipicu oleh napas yang berhenti sesaat. Dalam keadaan ini sel-sel otak kita mengalami pengrusakan.
Tes terhadap tikus menunjukan hilangnya sel-sel otak memperparah terjadinya penghentian nafas saat tidur. Hal yang sama bisa terjadi pada manusia, khususnya yang berusia lanjut. “Gangguan tidur biasanya terjadi pada manusia setelah usia 65 tahun,” ujar Jack Feldman, ahli neurobiology dari University of California Los Angeles. (mer)

Copyright © Sinar Harapan 2003

SEHAT ITU MAHAL

Super Brokoli untuk Penderita Kanker

JAKARTA – Para peneliti yang peduli dengan para penderita kanker, kini mencoba membudidayakan tumbuhan brokoli dengan ukuran super. Hal ini
diharapkan bisa menurunkan angka kesakitan terhadap penyakit tersebut.
Brokoli dipercaya bisa menghindarkan seseorang dari penyakit kanker. Hal itu juga yang diyakini Institut Penelitian mengenai Makanan (IRF) di Inggris. Menurut mereka, brokoli yang berwarna hijau itu, memiliki unsur kimia bernama sulforaphane yang dipercaya bisa menahan efek berkelanjutan dari kanker.
Karena asumsi itu pula, berarti secara logika, bila kita bisa memproduksi tumbuhan ini dalam kapasitas super, maka unsur kimia yang disebutkan tadi juga akan berkapasitas dan berdaya guna lebih besar. “Mengonsumsi brokoli dengan porsi besar atau brokoli dengan level sulforaphane tinggi, kemungkinan para penderita kanker bisa lebih minimal mengalami potensi kesakitan,” ucap Koordinator Penelitian, Profesor Richard Mithen, pada situs BBC,
baru-baru ini.
Brokoli dikenal sebagai keluarga sayuran yang sejenis dengan kubis, kol dan kangkung. Kebanyakan sayuran tersebut mengandung unsur glucosinolates berkadar tinggi. Selain itu, jenis sayuran yang memiliki unsur sulforaphane, dipercaya sebagai satu-satunya obat penekan penyebaran kanker dalam tubuh.
Super brokoli diperkirakan berukuran paling tidak lebih besar tiga perempat kali jenis brokoli biasa. (slg)

Pembesaran Otak Gejala Autis

NEW YORK – Semakin besar ukuran otak manusia, bukan berarti makin pintar. Justru itu tanda-tanda berkembangnya autisme. Tim ilmuwan dari University of North Carolina, Chapel Hill telah menganalisis otak dari 51 anak penderita autis dan 25 anak normal. Mereka berusia antara 18-35 bulan. Tim ini juga melakukan studi terhadap ukuran lingkar kepala 113 anak penderita autis dan 189 anak sehat.
“Pembesaran yang
cukup signifikan terdeteksi pada volume celebral cortex otak penderita autis,” papar hasil studi tersebut. “Pembesaran terjadi pada area abu-abu dan putih.”
Celebral cortex adalah lapisan area abu-abu yang berada pada bagian depan otak. Bagian ini adalah tingkat tinggi dalam otak kita, memiliki fungsi penting. Bagian inilah yang merupakan pengontrol gerakan otot dan aktivitas lain.
Pada penderita autis juga ditemukan bahwa lingkar kepala mereka berukuran normal pada saat lahir. Tapi terjadi pembesaran yang signifikan mulai sekitar usia 12 bulan. Selanjutnya, kesimpulan dari studi ini adalah, bagian
abu-abu dan putih celebral cortex pada anak autis membesar pada usia dua tahun. Dengan temuan ini, autis pada anak-anak bisa dideteksi sejak awal. Apabila kasus autis mampu dideteksi lebih dini, penanganannya bisa dilakukan sejak awal pula. Mayoritas kasus autis banyak yang terlambat diketahui. Orang tua biasanya kurang tanggap bahwa anaknya menderita autis, sebab memang agak sulit mengenali gejala autis dengan keterlambatan belajar. (ap/mer)
http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2005/1209/kes3.html