NUKLIR

Pekerja Industri Nuklir Berisiko Kanker

LONDON – Bahaya industri nuklir memang sudah lama disinyalir banyak orang. Untuk itu dikembangkan berbagai upaya demi mengurangi efek radiasi nuklir bagi para pekerjanya. Namun sebuah studi terbaru membuktikan bahwa dosis kecil radiasi juga tetap berisiko menderita kanker. “Kami telah membuktikan, radiasi paling rendah sekalipun tetap mengakibatkan kanker,” ujar Dr Elisabeth Cardis, pimpinan divisi radiasi di International Agency for Research on Cancer (IARC) Lyon, Prancis seperti yang dikutip Reuters belum lama ini.
Bahkan risiko ini hampir mirip dengan apa yang diperkirakan ilmuwan berdasar data korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki di Jepang tahun 1945. Standar perlindungan terhadap radiasi selama ini mampu membatasi ekspos radiasi ionisasi hingga 100 millisieverts (mSv) selama lima tahun. Sedangkan selama kurun satu tahun hanya mengurangi sebesar 1 mSv saja. Menurut Cardis, sampai sekarang masih menjadi kontroversi ihwal standar ini, apakah memang sudah cukup melindungi publik dan pekerja nuklir. Studi terbaru Cardis dan kawan-kawan yang dipublikasikan di British Medical Journal ternyata memperlihatkan bahwa risko kena kanker masih tetap memungkinkan.
Studi terbesar yang melibatkan 407.000 pekerja industri nuklir ini menghasilkan angka kumulatif yang menjelaskan bahwa 10 persen dari mereka berisiko meninggal akibat kanker. Sedangkan 19 persen berisiko kena leukemia. Semua pekerja industri nuklir tersebut didata dari 15 negara yang setiap harinya mengalami radiasi nuklir dosis rendah.
Mayoritas para pekerja tersebut berusia tua yang berarti sudah cukup lama mengalami radiasi nuklir. Makin lama kurun waktu mereka bekerja, makin tinggi risiko yang dimiliki. Sebab para pekerja usia lanjut sempat mengalami standar proteksi terhadap radiasi nuklir belum sebaik saat ini.(mer)

Porsi Makan Anak Jangan Berlebihan

NEW YORK – Kebiasaan makan anak ternyata juga dipengaruhi seberapa besar porsi makan yang kita beri pada mereka. Maka jangan sembarangan memberi porsi sesuai dengan selera kita. Temuan berdasar studi ilmuwan asal Cornell University ini berlawanan dengan teori sebelumnya. Dulu orang berpendapat bahwa anak-anak akan dengan sendirinya menentukan porsi makannya.
“Kami telah menguji semua hal yang kami prediksi bisa mempengaruhi seberapa banyak makanan yang dilahap anak-anak.” Papar David Levitsky, profesor bidang gizi dan psikologi dari Cornell University seperti yang dikutip AP baru-baru ini. “Kami menemukan bahwa besarnya porsi makanan yang kita hidangkan di piring akan menjadi faktor penting yang memengaruhi seberapa besar makanan yang masuk ke perut si anak.”
Selama ini orang tua cenderung menghidangkan makanan sebanyak-banyaknya di piring si anak agar anak mau makan dalam jumlah banyak. Padahal secara tak langsung ini sama saja dengan membuat anak terbiasa melahap makanan dalam porsi besar. Kebiasaan ini akan terus berlanjut hingga saat mereka makan di luar rumah. Bisa dibayangkan kebiasaan ini terbawa sampai usia remaja dan dewasa. Bahkan lebih parah lagi apabila mereka terbiasa menyantap makanan cepat saji berkalori tinggi dalam porsi besar pula. Pola makan seperti inilah yang akhirnya memicu obesitas.
Studi Levitsky beserta timnya ini melibatkan 16 orang anak yang duduk di bangku prasekolah usia 4-6 tahun. Makin banyak porsi yang diberikan pada anak-anak itu, makin besar pula makanan yang dikonsumsinya.(mer)

Copyright © Sinar Harapan 2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s