KONSULTASI Stroke dan Denyut Jantung Tidak Teratur

Diasuh oleh tim dokter RS Mediros

Tanya:
Satu tahun yang lalu, saya dirawat di rumah sakit karena mendapat serangan stroke ringan. Gejalanya, kepala pusing, badan lemas, dan tangan kiri agak lemah. Keadaan cepat membaik sehingga setelah satu minggu dirawat saya dibolehkan istirahat di rumah.
Di rumah sakit, saya diperiksa juga oleh dokter jantung dan ternyata menderita kelainan irama jantung. Kalau tidak salah dikatakan ”atrial fibrilasi”.
Dokter menyatakan stroke yang saya alami sangat besar kemungkinannya akibat penyakit jantung tersebut. Saya masih berobat teratur dan minum beberapa macam obat. Pertanyaan saya, apakah penyakit jantung saya bisa sembuh dan berapa lama lagi kemungkinan saya harus berobat?
Saat ini, saya merasa sehat. Hanya kadang-kadang timbul jantung berdebar. Apakah ada kemungkinan saya akan mendapat stroke lagi? Saya berumur 52 tahun, berat badan 78 kg, dan tinggi badan 164 cm. Ayah saya meninggal umur 59 tahun karena sakit jantung. Terima kasih atas penjelasan dokter.

Tan YH, Semarang

Jawab:
Sehubungan dengan kelainan irama jantung, Anda perlu tahu bahwa pusat pembangkit listrik jantung berada di serambi kanan (SA Node). Rangsang listrik disalurkan ke pembangkit berikutnya yang berada di tengah, antara serambi dan bilik (AV Node). Dari tempat ini, rangsang disalurkan ke kedua bilik jantung.
Pada penyakit Anda, atrial fibrilasi, dinding serambi berfungsi juga sebagai pusat listrik sehingga menimbulkan rangsang yang tidak beraturan (kacau serambi). Untunglah, tidak semua rangsang dari serambi diteruskan ke bilik jantung, sehingga tidak mengalami situasi gawat-darurat akibat kacau bilik (ventrikel fibrilasi).
Memang benar kelainan irama jantung (disritmia) jenis atrial fibrilasi seringkali menimbulkan masalah tambahan bagi yang mengidapnya, yaitu serangan gangguan sirkulasi otak (stroke). Ini terjadi karena serambi jantung yang berkontraksi tidak teratur menyebabkan banyak darah yang tertinggal dalam serambi akibat tak bisa masuk ke dalam bilik jantung dengan lancar.
Hal ini memudahkan timbulnya gumpalan atau bekuan darah (trombi) akibat stagnasi dan turbulensi darah yang terjadi. Serambi dapat berdenyut lebih dari 300 kali per menit padahal biasanya tak lebih dari 100. Makin tinggi frekuensi denyut dan makin besar volume serambi, makin besar peluang terbentuknya gumpalan darah.
Sebagian dari gumpalan inilah yang seringkali melanjutkan perjalanannya memasuki sirkulasi otak dan sewaktu-waktu menyumbat sehingga terjadi stroke. Pada penyakit katup jantung, terutama bila katup yang menghubungkan antara serambi dan bilik tak dapat membuka dengan sempurna, maka volume serambi akan bertambah, dindingnya akan membesar dan memudahkan timbulnya rangsang yang tidak teratur. Sekitar 20 persen kematian penderita katub jantung seperti ini disebabkan oleh sumbatan gumpalan darah dalam sirkulasi otak.
Atrial fibrilasi dapat berlangsung sesaat saja atau terus-menerus. Pada salah satu keadaan dari sindroma praeksitasi, fibrilasi ini berlangsung tidak terus-menerus. Tapi pada sebagian besar keadaan, fibrilasi ini berlangsung lama, bergantung pada penyakit dasar yang menyertainya. Atrial Fibrilasi bisa berhubungan dengan pneumonia (infeksi paru-paru), penyakit kelenjar tiroid (hipertiroidi), penyakit jantung bawaan, penyakit jantung reumatik, penyakit jantung iskemik, dan lain-lain.
Hal yang terakhir ini perlu ditelusuri lebih lanjut mengingat Anda memiliki faktor risiko seperti kegemukan pada seorang pria berusia lebih dari 40 tahun. Barangkali bila diperiksa lebih lanjut akan ditemukan deretan faktor risiko lainnya, misalnya profil lemak yang tidak sesuai (dislipidemia), gula darah yang tidak terkontrol (diabetes melitus), perokok, kurang aktivitas olahraga dan stress yang tak kunjung reda.
Makin banyak faktor risiko yang dimiliki, makin besar peluang mengalami penyakit jantung iskemik dan atau stroke. Iskemik ini seringkali mengakibatkan timbulnya fokus baru sebagai sumber rangsang listrik pada daerah serambi sehingga memicu timbulnya atrial fibrilasi.
Bila riwayat perjalanan penyakit sampai mengalami atrial fibrilasi berlangsung seperti itu, maka keberhasilan mengatasi atrial fibrilasi, seperti yang Anda alami, bergantung pada sampai sejauh mana faktor-faktor risiko tersebut diatasi. Pemeriksaan non-invasif ultrasonografi jantung (ekokardiografi) untuk melihat ruang-ruang jantung dan mengintip adanya sumber sumbatan (trombus) dalam serambi, mutlak diperlukan karena akan berimplikasi pada pengobatan.

Pengobatan
Tujuan utama pengobatan ialah meniadakan kelainan irama jantung. Bila hal ini tak dapat diraih, maka pengobatan diarahkan untuk mengendalikan kecepatan denyut jantung agar frekuensinya tidak terlampau cepat, biasanya tidak melebihi 100 kali per menit. Makin lambat berdenyut, makin baik. Bila Anda masih merasa berdebar-debar, hal ini bisa karena timbulnya ekstra denyutan atau frekuensi kontraksi bilik jantung pada atrial fibrilasi yang sewaktu-waktu bertambah cepat.
Dengan demikian, seandainya dari antara obat-obatan yang sedang diminum saat ini terdapat golongan digitalis, maka pertahankanlah terus obat tersebut karena selain sebagai penguat kontraksi juga sebagai pengendali frekuensi jantung.
Karena sumbatan pada pembuluh darah otak berhubungan dengan atrial fibrilasi kronis pada jantung, maka perlu dipertimbangkan pemberian obat yang menyebabkan darah tidak mudah membeku (antikoagulan) sehingga memperkecil kemungkinan timbulnya gumpalan baru dan penyumbatan. Beberapa uji klinis yang besar menyimpulkan bahwa pemberian antikoagulan akan menurunkan frekuensi stroke sampai 60 persen.
Bila setelah dievaluasi ternyata respons frekuensi bilik jantung terhadap atrial fibrilasi sulit dikendalikan dan peluang untuk mengalami stroke berulang masih cukup besar, maka perlu dipertimbangkan tindakan kardioversi.
Kardioversi adalah metode sederhana menghentikan irama jantung dengan cara meletakkan dua buah cakram elektrode di bagian atas dan bawah kiri permukaan dada, kemudian dilakukan shock aliran listrik searah. Kejutan listrik diawali dengan energi rendah, meningkat sesuai kebutuhan.
Respons pasien berupa sentakan tunggal dari otot dada dan tarikan ringan dari lengan. Ritme normal segera terlihat di monitor dan beberapa waktu kemudian dapat segera melakukan aktivitas seperti semula. Lebih mutakhir lagi, pada keadaan atrial fibrilasi menjadi bagian dari penyakit pusat pembangkit listrik utama jantung, perlu dilakukan tindakan ablasi pada AV Node dengan memasukkan kateter kecil ke dalam jantung melalui pembuluh nadi di lengan atau di lipat paha, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan pacu jantung sebagai pengendali irama. Demikian jawaban kami dan semoga lekas sembuh.

Dr.Doli Kaunang, SpJP
Ahli Jantung. RS Mediros

Copyright © Sinar Harapan 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s